KAYA RAYA BELUM TENTU MULIA, MISKIN MLARAT KERE' BELUM TENTU HINA
Ada kecenderungan halus dalam diri manusia untuk mengukur nilai seseorang dari apa yang tampak di permukaan
Kita hidup di dunia yang gemar menimbang manusia dengan angka, jabatan, dan simbol kemewahan. Tanpa sadar, pandangan mata menjadi hakim pertama, lalu pikiran mengikuti dengan prasangka. Secara psikologis, ini memberi rasa aman semu, seolah hidup bisa dipetakan dengan cepat dan sederhana. Secara sosial, kebiasaan ini menciptakan jarak yang sunyi, memisahkan manusia bukan oleh akhlak, melainkan oleh status.
Padahal kehidupan tidak pernah sesederhana etalase yang terlihat rapi dari luar. Ada sejarah panjang di balik setiap wajah, ada pergulatan batin yang tidak tercatat dalam harta maupun nama besar. Dalam kedalaman spiritual, nilai manusia tidak ditentukan oleh apa yang ia kenakan, melainkan oleh siapa ia di hadapan Tuhan. Ketika kesadaran ini hadir, kita mulai memahami bahwa kemuliaan sering kali bersembunyi di tempat yang tidak kita sangka, sementara kehinaan justru bisa berbalut kemegahan.
1. Kesalahan pertama bernama penilaian cepat
Menilai seseorang dari status dan hartanya adalah jalan pintas yang menipu. Pikiran manusia menyukai kesimpulan instan karena ia lelah memahami. Namun di situlah bahaya dimulai. Ketika penilaian lahir sebelum empati, kita bukan sedang memahami manusia, melainkan memenjarakannya dalam prasangka. Kesalahan ini tidak hanya melukai orang lain, tetapi juga mempersempit kebijaksanaan kita sendiri.
2. Kemewahan tidak selalu sejalan dengan kemuliaan
Sejarah mengajarkan bahwa tidak semua yang berkilau membawa cahaya. Ada kekuasaan yang megah namun hampa, ada kekayaan yang melimpah namun menjauhkan pemiliknya dari kebenaran. Secara filosofis, kemewahan hanyalah alat, bukan ukuran nilai. Ketika alat itu menguasai hati, ia berubah menjadi tirani yang halus, membuat manusia lupa pada arah dan tujuan hidupnya.
3. Kesederhanaan yang ditinggikan oleh ketulusan
Ada manusia yang berjalan tanpa simbol kemewahan, namun langkahnya bergema hingga langit. Kesederhanaan yang dibingkai keikhlasan memiliki daya yang tidak bisa ditandingi oleh emas dan tahta. Secara psikologis, ketulusan menghadirkan ketenangan yang tidak tergantung pada pengakuan. Secara spiritual, ia menjadi bahasa yang dipahami oleh Tuhan, meski sering diabaikan oleh manusia.
4. Bahaya menukar nilai dengan penampilan
Ketika masyarakat terbiasa memuja tampilan luar, yang terjadi adalah krisis makna. Anak anak tumbuh mengejar citra, bukan karakter. Orang dewasa sibuk menjaga gengsi, bukan nurani. Dalam tatanan sosial seperti ini, kebaikan yang sunyi sering kalah oleh kejahatan yang dipoles rapi. Padahal hidup yang sehat adalah hidup yang berakar pada nilai, bukan sekadar penampilan.
5. Membenahi cara memandang manusia
Kedewasaan batin dimulai saat kita melatih diri untuk melihat manusia dengan mata yang lebih jernih. Mata yang mencari akhlak, bukan atribut. Mata yang mendengar kisah, bukan sekadar gosip. Ketika cara pandang ini tumbuh, kita menjadi pribadi yang lebih adil, lebih lembut, dan lebih dekat pada kebijaksanaan. Dari sinilah lahir masyarakat yang tidak mudah menghakimi, tetapi bersedia memahami.
Jika hari ini semua simbol status dan harta dilepaskan, siapa sebenarnya manusia yang selama ini paling kau hormati, dan siapa yang diam diam kau remehkan?