Kalau Sudah Cinta Dan Sayang, Langsung Saja Lamar, Gak Usah Istiqoroh
Ungkapan ini terdengar singkat dan tegas, namun menyimpan pesan fiqih sekaligus kebijaksanaan hidup yang dalam, khas nasihat ulama yang berbicara dari pengalaman dan kejernihan pandangan.
Kalimat “Kalau sudah cinta dan sayang, langsung lamar” menegaskan bahwa cinta yang sehat tidak dibiarkan berlarut-larut tanpa arah. Dalam pandangan KH. A. Idris Marzuqi, perasaan cinta dan sayang bukan untuk dimainkan, ditunda-tunda, atau dinikmati dalam wilayah abu-abu yang rawan dosa dan luka. Jalan yang terhormat bagi cinta adalah tanggung jawab, dan bentuk paling jelas dari tanggung jawab itu adalah lamaran.
Lalu bagian yang sering mengundang tanya: “Tidak usah istikharah.” Ini bukan ajakan meremehkan shalat istikharah, melainkan penekanan makna istikharah itu sendiri. Istikharah sejatinya dilakukan ketika seseorang masih ragu atau belum memiliki kecenderungan hati yang kuat. Jika cinta dan kesiapan sudah jelas—secara agama, akhlak, dan kemampuan—maka keraguan yang berlebihan justru bisa menjadi bentuk lari dari tanggung jawab.
Nasihat ini juga mengandung kritik halus terhadap kebiasaan sebagian orang yang bersembunyi di balik istikharah untuk menunda keputusan, padahal hatinya sudah condong. Akibatnya, hubungan menggantung, harapan orang lain terulur, dan batas-batas syariat rawan dilanggar.
Secara lebih dalam, KH. A. Idris Marzuqi ingin mengajarkan bahwa keputusan hidup tidak selalu butuh kerumitan spiritual, selama prinsip dasarnya sudah benar: niat baik, jalan halal, dan kesiapan memikul amanah. Dalam kondisi seperti itu, melangkah justru lebih utama daripada terus menimbang tanpa ujung.
Ungkapan ini akhirnya menegaskan satu hal penting:
cinta yang benar tidak diuji dengan lamanya penantian, tetapi dengan keberanian untuk bertanggung jawab. Jika hati sudah yakin dan jalan sudah halal, maka melangkah adalah bentuk tawakal yang paling nyata.
0 Komentar
Terima kasih atas kunjungan Anda🙏🏼