Hukum-Hukum Arisan Oleh : KH. M. Shiddiq Al Jawi


Hukum-Hukum Arisan Oleh : KH. M. Shiddiq Al Jawi

Arisan dalam bahasa Arab disebut jam’iyyah al muwazhzhafiin atau al qardh al ta’aawuni.
Arisan hukumnya boleh karena termasuk dalam akad qardh (pinjaman) yang hukumnya boleh. Namun jika melanggar hukum syara’ tentang qardh (pinjaman), arisan hukumnya tidak boleh atau haram.
Hukum-hukum Arisan dalam Syariah Islam antara lain sbb,

(1) jumlah uang yang diperoleh pemenang arisan wajib sama dgn akumulasi iuran yang dibayarkan oleh seorang peserta arisan. Selisih kurang atau lebih adalah riba.

(2) jika dalam arisan yg dikumpulkan adalah uang, maka pemenang arisan hanya boleh menerima uang yang sama jenisnya dan yang sama jumlahnya.

(3) jika dalam arisan yg dikumpulkan adalah barang, (misal beras, gula, dll) maka pemenang arisan hanya boleh menerima barang yang sama jenisnya dan yang sama berat/takarannya.

(4) tidak boleh arisan yang mengumpulkan uang, tapi pemenangnya mendapat barang. Demikian pula sebaliknya, tidak boleh arisan yg mengumpulkan barang, tapi pemenangnya mendapat uang.

(5) dalam hal pemenang arisan menginginkan mendapat barang dari arisan uang, hukumnya boleh jika memenuhi 2 (dua) syarat;

*Pertama*, pemenang arisan diberi opsi (pilihan), yaitu boleh mengambil uang dan boleh pula mengambil barang.

*Kedua,* pemenang arisan yg memilih opsi mengambil barang, harus melakukan akad jual beli yg terpisah dg akad arisan di awal.

(6) biaya operasional atau konsumsi tidak boleh diambil atau dipotong dari uang arisan.

(7) biaya operasional atau konsumsi harus dipisah dari uang arisan.

(8) tidak boleh ada lelang dalam arisan. Karena lelang pasti akan menimbulkan riba, yaitu tambahan dari jumlah arisan yg sdh dibayar oleh pemenang lelang. Wallahu a’lam
Yogyakarta, 18 Agustus 2017
Shiddiq Al Jawi

HUKUM HAJI BADAL (menggantikan orang lain)


Bagi orang Islam yang mampu, berkewajiban melaksanakan ibadah haji namun hanya sekali seumur hidup. Dalam pelaksanaannya haji juga bisa dikerjakan dengan cara badal (diganti oleh orang lain).
Siapa saja yang hajinya boleh dibadali dan bagaimana hukumnya?
A. Haji yang boleh dibadali yaitu:
1. Orang yang meninggal.

تجب إنابة عن ميت عليه نسل من تركته (فتح المعين، ص 60)
Hal ini juga sesuai dengan hadits Nabi yang berbunyi:

حدثنا محمد بن عبد الأعلى الصنعاني حدثنا عبد الرزاق أنبأنا سفيان الثوري عن سليمان الشيباني عن يزيد بن الأصم عن ابن عباس قال جاء رجل إلى النّبي صلى الله عليه وسلم فقال أحج عن أبي قال نعم حج عن

أبيك فإن لم تزده خيرا لم تزده شرا (سنن ابن ما جه، جز 2 ،ص 165).

2. Orang yang tidak mampu melaksanakan ibadah haji seperti lumpuh, sakit yang tidak bisa diharapkan tidak yang tua orang dan kesembuhannya, memungkinkan untuk menjalankan ibadah haji.

تجب إنابة عن ميت .... وعن آفاقي مغضوب عاجز عن النسك بنفسه

لنحو زمانة أو مرض لا يرجى برؤه (فتح المعين، ص 60 ) إن امرأة من خثعم قالت يا رسول الله إن فريضة الله على عباده في الحج آذرکت ابن شيخا كبيرا لا يثبت على الراحلة الأحج عنه قال نعم

(اعانة الطالبين, جزا, ص ٢٨٥).

B. Hukum haji badal (menggantikan orang lain)
Wajib dengan syarat:
1. Jika orang yang meninggal tersebut mempunyai harta peninggalan (yang cukup)
2. Jika orang tersebut tidak mampu secara fisik, dan ada orang yang mau untuk menggantikan dengan upah yang tidak melebihi standart (haji)
Sunnah, jika orang yang meninggal tersebut tidak mempunyai harta peninggalan.
تجب إنابة عن ميت عليه نسك من تركته فلو لم تكن له تركة سن لوارثه أن يفعله عنه فلو فعله أجنبي جاز و لو بلا إذن وعن آفاق النسك بنفسه لتخو زمالة أو مرض لا يرجى برؤه مغضوب عاجز عن بأجرة مثل فضلت عمّا يحتاجه المغضوب يوم الاستنجار (فتح المعين، ص7.)
Tidak sah, jika tidak mendapat izin dari ma'dhub (orang yang tidak mampu secara fisik)
ولا يصح أن يحج عن مغضوب بغير إذنه (فتح المعين، ص 60
Waallahu a'lam

Posting Komentar

0 Komentar